Blusukan di Pasar Andir, Bandung

Andir1

Sepasang ruko tua berlantai dua, mengapit jalan masuk ke Pasar Andir

Pasar Andir Bandung merupakan salah satu pasar tradidional di Bandung. Pasarnya luas dan berdiri sejak jaman dahulu kala. Terletak di tepi Jalan Sudirman Bandung yang dulunya merupakan bagian dari Grote Postweg, atau Jalan Raya Pos yang dibangun sejak jaman Daendels. Salah satu yang menarik dari pasar Andir adalah masih tersisnya beberapa bangunan lama yang masih tegak berdiri sekalipun terseok-seok diterjang kemajuan. Hal ini salah satu yang membedakan pasar Andir dengan pasar tradisional lain yang terkenal dengan becek, kumuh dan bau, serta macet.Di depan Pasar Andir berdiri dua ruko tua yang seolah menjadi gerbang bagi Pasar Andir. Ruko 2 lantai ini simetris dengan kondisi yang agak berbeda. Ruko sebelah barat relatif terawat dan masih dipakai sebagai toko bahan bangunan. Sementara yang bagian Timur nampaknya kosong, tidak terpakai dan bagian lantai 1 ada yang dipakai untuk WC umum.

Andir2

Ruko sebelah Barat, wajahnya sebagaian ketutup kios/jongko pedagang.. masih difungsikan

Andir3

Detail dari ruko sebelah Barat.. sayang tidak terawat

 Jika masuk ke dalamnya, akan terlihat deretan toko-toko dengan nuansa jadul di deretan sebelah kiri (Barat). Sekalipun tertutup oleh tenda-tenda pedagang pinggir jalan, rasanya atap toko-toko ini masih tetap ingin menunjukkan kekunoannya. Tampak sangat kontras dengan banguna baru yang dibangun seperti Mall di tengah pasar. Jangan berharap bisa nyaman berjalan memasuki pasar ini, karena selain becek, macetnya juga luar biasa sehingga dibutuhkan ketabahan ekstra. Selain itu sesekali kita harus menahan nafas kerana bau yang lumayan cihuy..

Deretan ruko tua tertutup jongko pedagang.. kontras dengan bangunan baru di tengah pasar

Deretan ruko tua tertutup jongko pedagang.. kontras dengan bangunan baru di tengah pasar

Jika kita masuk lebih dalam, masih dapat kita jumpai beberapa toko jadul yang kondisinya cukup terawat seperti Toko Anita. Sayang sekali keindahan bentuk toko ini tidak bisa dinikmati secara penuh karena tertutup tenda biru (bukan orang kondangan tapi PKL). Sangat sulit mendapatkan gambar secara utuh karena saat tutup pun, tenda birunya masih terpasang.

Anita

Toko Anita, salah satu toko jadul yang masih eksis.. sayang tertutup tenda

Ditengah pasar ada dua pilihan jalur yang bisa kita ambil, ke kanan (ke Timur) yaitu ketemu dengan Toko Anita tadi atau ke arah Barat.. Di arah Barat ini ternyata masih banyak deretan toko yang memanjang seperti di jalan masuk Pasar Andir tadi. Jalan ini memanjang diapit oleh deretan toko dengan model kuno dengan warna dominan hijau.. Nantinya jalan ini akan tembus ke Jalan Sudirman lagi.

Pasar Andir memang menyimpan sejarah panjang.. ruko-ruko tua dan pasar tua itu menjadi saksinya. Sayang sekali, keindahan sisa-sisa dari jaman dahulu itu tertutup oleh kumuh, macet, becek dan baunya pasar. Semoga bangunan-bangunan tua yang ada didalamnya tetep terjaga dan lestari.

dalam

Dereten toko di jalan arah Barat.. tampat kekunoannya

IMG_0908

Seperti masuk ke lorong waktu.. khas pasar jaman dahulu kala

*foto koleksi pribadi, diambil bulan Juni 2014

Menikmati Candi-Candi di Jogja dan Sekitarnya (1)

Siapa yang tidak kenal dengan Candi Borobudur dan Candi Borobudur. Jika berwisata ke Jogja dan Jawa Tengah dan mengunjungi candi, pasti yang terlintas di piliran adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Mungkin baru sedikit yang menyadari bahwa candi tidak hanya kedua candi itu yang terdapat di dekat jogja. Masih ada banyak candi yang terserak di sekitar Jogaja yang menarik unutk dijelajahi. Berikut ini beberapa candi yang menarik untuk dikunjungi.

  1. Candi Plaosan

Candi Budha ini terletak tidak jauh dari Candi Prambanan PersisnyaDukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Candi ini terdiri dari 2 kompleks. Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Candi Plaosan Lor seperti tempat pemujaan dengan bangun besar di pusatnya, sementara Candi Plaosan kidul terdiri dari bangunan-bangunan kecil seperti perumahan. Mungkin dulu pemukiman para biksu. Enaknya berkunjung ke sini tidak serama kalau ke Prambanan. Lebih sepi, dan tidak ditarik tiket resmi.

 

  1. Candi Sari

Candi Sari konon merupakan bagian dari Candi Kalasan. Letaknya sekitar 200 meter timur laut Candi Kalasan. Kalau dari Jogja,terletak di sebelah kiri jalan Jogja-Solo sementara Candi Kalasan terletak di sebelah Kanan. Candi Sari dulunya berfungsi sebagai asrama para pendeta Budha. Dalam ruangan Candi Sari terlihat bahwa dulunya candi ini memiliki ruangan di lantai 2, namun karena lantainya teruat dari kayu, lantai 2 tembus sampai ke lantai 1. Masuk ke candi ini cukup murah, kadang ditarik tiket 2 rb kadang cukup memberikan uang ala kadanya di loket masuk. Suasana di Candi in lumayan sepi, enak untuk dinikmati. Candi Sari ditemukan sekitar tahun 1929.

Candi Sari, Kalasan

Candi Sari, Kalasan

  1. Candi Gebang

Candi Gebang letaknya tidak jauh dari Stadion Maguwharjo, Sleman, markas PSS Sleman. Hanya karena tidak ada jalan tembus jadi harus memutar cukup jauh. Letak persisnya Dusun Gebang, Kelurahan Widomartani, Ngemplak, Sleman.  Candi Gebang hanya terdiri dari satu bangunan candi yang tidak terlalu besar. Terdapat patung Ganesha di dalam salah satu relung di sisi candi. DI daam Candi dulunya ada Lingga dan Yoni, tetapi karena alasan keamanan mala Lingga dan Yoni di simpan dalam ruangan penjaga candi. Untuk masuk kesini cukup bayar tiket 2000 saja. Saat sore hari relatif banyak anak-anak muda yang nongkrong di candi ini.

Candi Gebang, Maguwoharjo

Candi Gebang, Maguwoharjo

 

 

4 Candi Kadisoka

Candi Kadisoka sebenarnya belum direkonstruksi secara utuh, baru terlihatkaki candinya. Letaknya diDusun Kadisoka, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Penemuannya relatif baru, tahun 2000-an. Candi ini diduga candi Hindu ditemukan oleh penggali pasir. Kalau tidak sedang ada penjaganya, kita tidak bisa masuk ke dalamnya, tetapi informasi tentang candi ini bisa dibaca dari papan informasi yang tersedia. Didekat candi ini ada pemancingan yang cukup ramai dan ikan yang didapat bisa dibakar disana. Sambil menikmati candi bisa makan-makan pula.

Candi Kadisoka, baru nampak kaki candinya

  1. Candi Palgading

Status candi ini seperti candi Kadisoka, belum dibangun ualng. Letaknya di Dusun Palgading, Kel. Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman. Kalau dari Jogja, ke Jalan Kaliurang, di pertigaan Gandok, ambil jalan ke kanan. Kira-kira 2 km nanti akan ketemu Desa Wisata Palgading. Letaknya di dalam kampung, jadi tersembungi di halaman belakang rumah-rumah penduduk. Dari tapak sisa bangunannya, sepertinya candi ini cukup besar dan terrendam cukup dalam.  Tidak jauh dari cnadi ini ada rumah makan Tengkleng yang maknyus.. namanya Tengkleng gajah..wadoh tetep aja makanan..

Ini baru sebagian kecil dari candi-candi di Jogja.. edisi berikutnya monggo ditunggu…

 

Monumen-Monumen di Seputaran Jogja (Bagian 1)

Jogja akan selalu tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Statusnya sebagai Ibukota perjuangan pada masa awal kemerdekaan Indonesia membuat peranna sangat penting saat itu. Pada periode 1945-1949 banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di Jogjakarta dan sekitarnya. Titik puncak dari peran Jogja sebagai Ibukota perjuangan adalah pada rentang 1948-1949 saat terjadi Agresi Militer II. Di Jogja terdapat banyak sekali monumen besar maupun kecil untuk mengenang peristiwa-peristiwa terkait dengan perjuangan rakyat Indonesia dan TNI dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI. Bagi penggemar sejarah sepertiku, menjelajah  monumen-monumen ini sunguh suatu kegiatan menyenangkan, jalan-jalan sambil belajar. Dengan  begitu, kita jadi lebih menghargai perjuangan pahlawan, baik dari rakyat, TNI, Laskar dan semua. Berikut ini beberapa monumen yang sempat saya kunjungi dan sedikit cerita dibaliknya.

1. Monumen di Desa Brayut.

Monumen ini dibangun untuk mengenang pertempuran tanggal 6 Mei 1949. Pada pertempuran tersebut gugur beberapa orang yaitu :

  • Sardjiman
  • R Suprapto
  • Sudijono
  • Kusen
  • Supardjono
  • Djumat Tjokrowihardjo

 

Brayut

Monumen di Desa Brayut, Sleman

2. Monumen Gamel

Letaknya tidak jauh dari Alun-Alun Kidul, maaf saya gak paham nama daerahnya.. tar di cari deh.. 🙂 Letaknya di halaman sebuah rumah dengan pendopo kuno. Aku kurang paham karena kemarin itu hanya turun dan mengambil fotonya. Tapi dari info sekilas sepertinya rumah tersebut dulunya adalah markas perjuangan dari Kampung Gamelan yang ditinggal oleh abdi dalem Kraton Jogja. Kalau tidak salah wilayah ini terkait dengan SWK 101, suatu pembagian wilayah gerilya pada perang kemerdekaan. Monumen ini diresmikan tahun 1991 oleh Sultan Hamengkubuwono X. Foto lebih indah bisa di lihat di sini

Gamelan1 Gamelan2

3. Monumen Kembang Arum

Monumen Kembang Arum terletak di depan Puskesmas Turi, Desa Kembang Arum, Kecamatan Turi, Sleman. Jalan ini merupakan jalan alternatif menuju Magelang dari Kaliurang. Sayang sekali prasastinya di cat hitam sehingga tidak bisa ternaca tanggal dan siapa saja yang gugur di sini. Ada 2 monumen disini, satu monumen utama dan satu semacam prasasti kecil dengan kalimat seperti pada fotonya. Sayang nya ada kesalahan dalam penulisannya, dikatakan ABRI, padahal padatahun yang dimaksud Tahun 1948-1949 belum ada istilah ABRI.

Dari sumber di intenet di dapat cerita bahwa pada tanggal 4 Januari 1949, hari Selasa Pahing. Kompi Batalyon 151 yang dipimpin Kapten FX. Haryadi dan KODM Turi menghadang peleton serdadu Belanda yang datang dari Medari, di utara dusun Kembangarum. Kemudian pasukan Belanda kewalahan, mundur ke selatan dan mendapat bantuan kemudian membalas serangan dengan mortir dari arah Medari dan Turi. Penduduk yang menjadi korban dan gugur di Kembangarum : 1. Sukitri 2. Pawiro Karyo. Kemungkinan 2 nama ini yang tertulis di monumen ini seperti pada monumen yang lain.

Kembang arum2

Sayang sekali ada penulisan yang salah

Kembang arum1

Prasastinya di cat hitam.. entah sengaja atau ulah orang tak bertanggung jawab. Monumen Kembang Arum

4. Palagan Cepet

Palagan Cepet

Monumen Cepet, Puwobinangun, Pakem, Sleman

Palagan Cepet ini terletak di Dusun Cepet, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem. Letaknya di pinggir Jalan Pakem-Turi, Sleman. Monumen ini dibangun untuk mengenang pertempuran pada tanggal 11 Januari 1949 yang mengakibatkan gugurnya Letda Kasijam dan Agen Polisi Soekarjo. Pertempuran di Cepet ini tidak hanya terjadi tanggal 11 Januari 1949. Sebelumnya tanggal  2 Januari 1949 pasukan Belanda yang bermarkas di Watuadeg diserang pasukan KODM Pakem pimpinan Letda Asropah dan pasukan TP pimpinan Kapten Martono. Pasukan Belanda lari ke arah selatan, sampai di dusun Cepet jam 06.30 dihadang pasukan Subadri dari Gatep. Pertempuran terjadi sampai jam 10.00 wib. Korban dari pihak Belanda 4 orang. Selanjutnya pada tanggal 5 Januri 1949 juga terjadi pertempuran di Cepet yang menyebabkan 3 tentara Belanda tewas dan dimakamkan di Cepet.

 

5. Monumen Pogung

Lokasinya tidak jauh dari kampus Fakultas Teknik UGM. Tepatnya di Jalan Teknika. Di monumen ini terdapat nama-nama pejuangan dengan keterangan bagaimana beliau wafat. Beberapa gugur pada masa perjuangan, ada yang hilang (ditulis ‘ghaib’), ada yang menunggal karena usia. Dari info beberapa teman, katanya monumen ini untuk menghargai warga Pogung yang turut berjuang pada masa perjuangan. Konon beberapa dari mereka dimakamkan di pemakaman yang tidak jauh dari monumen ini. Saya belum pernah menelusuri lebih jauh.

Pogung

 

6. Monumen Palagan Rejodani

Monumen Rejodani terletak di daerah Rejodani, Jl Palagan Tentara Pelajar. Monumen ini dbangun untuk mengenang pertempuran pda tanggal 29 Mei 1945. Pada pertempuran ini gugur 8 pejuang dari pihak RI. Nama-nama beliau diabadikan di monumen antara lain :

1. Harsono                           5. Soepanoto

2. Soewono                          6. Darjono

3. FX Soekardi                    7.  Soenarto

4. Soerojo                            8. Alibasjah

Pertempuran ini berawal dari penyerangan pasukan Belanda. Pasukan Belanda ini dihadang oleh pasukan  Sersan Suwarno dari Pleton Batalyon 300 dan kopral Harsono di daerah Ngetiran. Dan pada pertempuran ini gugur 8 pejuang.

Rejodani

7. Monumen di Tempel

Monumen ini terletak di perempatan jalan Tempel, Jl arah Magelang. Lokaisnya tidka terlalu jauh dari jembatan Kali Krasak. Saya belum tahu sejarahnya tapi dalam monumen ini tercantum nama 5 pejuang yang gugur dalam pertempuran di lokasi ini. Nama-nama yang gugur adalah :

1.   Komari                                                                                4.  Kasimin

2.  Radimin                                                                               5. Dulhadi

3. Abudarto

Tempel

Ketujuh monumen tersebut baru sebagian kecil dari monumen yang ada di Jogja.. penjelajahan masih berlanjut, kapan-kapan di-post hasil penjelajahan selanjutnya.

Menara Air.. salah satu landmark kota-kota di Indonesia

Salah satu kebutuhan umum yang cukup vital  di perkotaan adalah air bersih. Sejak jaman Belanda layanan air bersih untuk keperluan minum atau yang lain disediakan oleh pemerintah kota. Salah satu objek penanda dari adanya layanan air bersih ini adalah adanya tower air. Keberadaan tower air yang cukup tinggi dan bentuknya yang unik bisanya menjadi penanda dari sebuah kota disamping objek-objek yang lain. Tiap daerah memiliki tower air yan berbeda-beda, ada yang besar, ada yang kecil.. ada yang tepat di tengah kota ada juga yang dipinggir kota. Semua tergantung dari tata ruang di kota tersebut. Berikut ini beberapa menara air yang sempat dilihat, dikunjungi dan didokumentasikanala kadarnya. Sebagai pemuas dari hoby menikmati bangunan-bangunan lama. Memang tidak semua bangunan lama tapi lumayan untuk dibandingkan satu dengan yang lain.

1. Menara air ini letaknya di Probolinggo Jawa Timur. Usianya sudah cukup tua, dibangun sekitar tahun 1930-an. Sayang sekali saat ini tidak terawat dan dipasangi  iklan yang menyedihkan.

Probolinggo

Menara Air di Probolinggi, Jawa Timur. Juli 2014

ProboLama

2. Menara Air Pamekasan. Menara air ini posisinya tepat di tengah kota. Tidak jauh dari Monumen Arek Lancor yang terkenal itu. Dibangun tahun 1927, menara air ini masih berdiri dengan gagah menghias Kota Pamekasan. Dulu di dekat menara air ini ada PLTD yang memasok kebutuhan listrik kota, tapi saat kesana ulan April 2013, saya tidak melihat lagi PLTD atau sisa-sisanya.

prasasti Continue reading

Stasiun, Penanda Sejarah Kota dan Transportasi

Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Dirut PT KAI yang sekarang menjadi Menhub membawa banyak perubahan pada wajah perkeretaapian di negeri ini. Banyak perubahan yang menuju perbaikan digalakkan walaupu banyak memakan korban. Pedagang asongan dan pengamen yang dulu setia menemani sepanjang perjalanan dengan KA Ekonomi kini tiada lagi, jadwal KA yang sering ngaret kini hampir selalu tepat waktu.. mungkin Iwan Fals harus mengubah lirik salah satu lagu lamanya.

Tapi bukan itu yang mau dibahas, tapi stasiunnya.. Stasiun KA umumnya merupakan bangunan lama peninggalan operator KA jaman Belanda. Jika ada yang baru biasanya lokaisnya tetap cuma beda pintu saja. Seperti kita ketahui, dulu KA dioperasikan oleh banyak perusahaan dengan wilayah kerja yang berbeda, ini membuat kadang bentuk stasiun, lebar spoor dan gaya stasiunnya juga berbeda.

StasiunRambipuji

Stasiun Rambipuji, tahun 1920-an… spoor sebelah kiri lebih kecil untuk trem ke arah Puger dan Ambulu, sedangkan spoor yang lebih besar untuk KA ke arah Klakah sampai Surabaya

 

Berikut ini beberapa stasiun dengan arsitektur lama yang pernah saya singgahi dengan beberapa data singkatnya :

Bedono1

Stasiun Bedono, Kecamatan Jambu, Kab. Semarang.. dibangun sekitar tahun 1905 oleh NIS, dilewati jalur dari Kedung Jati sampai Secang.. sejak tahun 1970-an berhenti beroperasi.. saat in digunakan sebagai stasiiun akhir KA Wisata dari Ambarawa.. saat dikunjungi sedang direnovasi.. tanggal 6 Oktober 2014

Bedono2

Bagian dalam Stasiun Bedono

Letjes1

Stasiun Letjes, Probolinggo.. bagian dari jalur Surabaya-Banyuwangi, dibangun sekitar tahun 1895-an… hanya disinggahi KA ekonomi

stasiun pamekasan

Stasiun Pamekasan Madura, tahun 1930.. sekarang KA di Madura tidak ada lagi, dulu dioperasikan oleh Madoera Stoomtram.. Stasiun Pamekasan merupakan stasiun ujung, jika melanjutkan perjalanan ke Sumenep diantar oleh Bus milik Madoera Stoomtram. Setelah KA tidak aktif lagi sempat digunakan sebagai tempat penampungan hasil bumi sebelum diangkut ke lain daerah.

ST JemberStasiun Jember, dibangun tahun 1897.. bagian jalur Surabaya-Banyuwangi sekaligus ujun dari Jalur Jember-Panarukan. Stasiun ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi dari Jember ke pelabuhan Panarukan. Stasiun Jember sekarang masuk Daops IX, wilayah kerjanya sampai keBali. Sedikit cerita tentang Stasiun Jember bisa dibaca di postingan ini.

STJember30

Stasiun Jember tahun 1930-an, diambil dari KITLV

 

STBalung1Ex. Stasiun Balung, letaknya di Kecamatan Balung, Kab. Jember. Saat ini jalur KA-nya tidak aktif lagi. Dulu stasiun inimerupakan persimpangan jalur ke Ambulu dan ke arah Puger/Kencong. Saat ini dipakai untuk pasar sepeda.

STBalung2

Masih ex Stasiun Balung

stBondowoso2Stasiun Bondowoso, salah satu stasiun bersejarah dengan peristiwa Gerbong Maut-nya. Tanggal 23  November 1947, 100 tawanan, pejuang RI dikirim ke Surabaya menggunakan 3 gerbong barang yang tertutup. Karena perjalanan sangat lama dan panas serta kondisi gerbong yang tertutup, tercatat 46 pejuang gugur dalam gerbong-gerbong tersebut. Dibangun sejaman dengan Stasiun Jember, sekitar tahun 1897-an, menghubungkan Jalur Jember-Panarukan. Saat ini tidak difungsikan lagi sehubungan dengan ditutupnya jalur Jember – Panarukan.

 

terowongan mrawanKalau yang ini bukan stasiun tapi terowongan Mrawan, terketak jalur Jember-Banyuwangi, sampai saat ini masih aktif. cerita singkatnya bisa di baca di sini

Stasiun Bangil, terletak di jalur Surabaya-Pasuruan yang diresmikan tahun1878. Keistimewaan Stasun ini adalah persimpangan Jalur Surabaya-Malang terletak di Stasiun ini. Jalur Bangil-Malang diresmikan 20 Juli 1879. Saya tidak berhasil ambil foto depannya karena di atas kereta.. tapi jam dinding kuno itu rasanya cukup mewakili ketuaan stasiun ini…

 

Bangil

Stasiun bangil

SCSstasiunStasiun Tegal, direnovasi tahun 1918 dengan arsitek Henry Mclaine Pont… Stasiun ini milik SCS, cerita lebih lanjut bisa dibaca di artikel ini

TawangStasiun Tawang, salah satu stasiun legendaris dan tertua di Jawa.. merupakan stasiun utama NIS.. pengganti Stasiun Tambaksari yang dibangun tahun 1864. Arsitek stasiun ini J.P de Bordes… masih dipakai sampai sekarang.

Stasoun Tugu, Jogja.. kalo gak kenal kebangetan.. dibuka tahun 1887, dulunya sih dipakai untuk mempermudah kunjungan  penguasa HIndia-Belanda ke Raja Kraton Jogja… namun akhirnya untuk pengngkutan hasil bumi juga.. Stasiun ini milik NIS.

stasiunGarahan

Stasiun Garahan.. Jember

Stasiun Garahan terletak di jalur antara Jember-Banyuwangi. Stasiun ini sekalipun tidak menjadi pemberhentian KA kelas Bisnis tetapi menjadi stasiun penting bagi penumpang KA jalur Banyuwangi-Jember.. apalagi kalau bukan Pecel Garahan yang legendaris.. sayang sekarang penjual pecel gak boleh masuk ke satiun lagi.. di dekat Stasiun ini ada terowongan Garahan dan terowongan Mrawan.. keduanya di bangun antara tahun 1901-1910..

 

Ohya artikel ini masih terus berlanjut.. pelan-pelan akan ditambah karena masih banyak stasiun lain yang pernah disinggahi tapi belum ditulis disini..