Menikmati Sejuknya Perkebunan Kopi sambil Wisata Sejarah di Kafe Gumitir.

Libur Lebaran kemarin, saya berkesempatan berwisata ke Cafe & Rest Area Gumitir. Sebagai tempat makan, jika makanannya enak dan khas Jawa Timuran, tentu tidak menjadikannya istimewa. Atau sajian kopinya yang mantap punya, wajar saja soalnya café ini tempatnya ditengah kebun kopi dan dekat dengan pabrik kopi. Hal yang menurut saya instimewa adalah adanya wisata agro dan sejarah ke terowongan Merawan dan pabrik kopi.kAwisataimagesterowongan1

Dengan menggunakan kendaraan wisata yang disediakan Café Gumitir, kisa menikmati suasana kebun kopi  untuk menuju ke kedua objek tadi. Yang pertama dituju adalah Terowongan Merawan. Terowongan ini adalah terowongan kereta api  Merawan. Terowongan ini merupakan salah satu dari 2 terowongan yang ada di daerah ini dan masih dipergunakan sampai saat ini. Terowongan pertama adalah Terowongan Garahan sepanjang 90 meter yang selesai dibangun oleh Belanda tahun 1901 dan selesai tahun 1902 sedangkan terowongan kedua adalah Terowongan Merawan sepanjang 980 m yang selesai dibangun tahun 1910. Terowongan ini terletak di jalur antara Jember-Banyuwangi  masuk di Daerah Operasi IX (Daop IX).

Continue reading

Kenangan Napak Tilas Letkol Moch. Sroedji (NALASUD)Tahun 1992

Beberapa hari yang akan datang (15-20 Agustus 2014) akan dilaksanakan Napak Tilas Letkol Moch Sroedji (NALASUD) ke XV. Kebetulan 22 tahun yang lalu, Aku sempat mengikuti NALASUD pada tahun 1992, entah NALASUD keberapa, yang pasti  saat itu aku baru naik kelas 2 SMA. Bersama 2 teman SMA 1 Jember yang lain, aku bolos sekolah untuk mengikuti NALASUD dari tanggal 11-16 Agustus 1992, ya bolos, karena surat permohonan ijin resmi ke sekolah tidak mendapat persetujuan dari pihak sekolah.

Dengan tekad membaja dan semangat perjuangan, kami bertiga, Aku (Achmad Rizal), Kadek Dharma (sekarang dokter kandungan di Jember) dan Hanindya W (sekarang bekerja di perusahaan swasta di Jember) berangkat untuk mengikuti NALASUD yang diadakan oleh Ambalan/Racana Damarwulan dan Srikandi. Terakhir baru faham aku kalau nama Damarwulan diambil dari nama Brigade yang dipimpin oleh Letkol Moch. Sroedji.

Perjalanan dimulai

Kegiatan dimulai pada Hari Selasa, 11 Agustus 1992 sekitar jam 2 siang, berupa upacara pembukaan di depan Sanggar Pramuka UNEJ di belakang PKM UNEJ, Jl. Kalimantan. Kegiatan dibuka oleh Pembina Pramuka UNEJ, Kak Rahayu dan Kak xxxxx Sembiring, lupa nama lengkapnya. Setelah dibuka dan dilepas, kami berangkat ke Kreyongan untuk ziarah ke makam Letkol Moch Sroedji. Baru kali itu aku kesana, sekalipun aku sering wira-wiri ke daerah itu. Setelah ziarah ke makam Letkol M Sroedji, kami berangkat menuju Manggisan Tanggul menggunakan truk untuk memulai kegiatan NALASUD tahun 1992.

Di Manggisan, kami menginap di satu rumah yang memiliki kolam dengan sumber air artesis, jadi peserta pria, mandi berendam rame-rame :). Malam itu setelah makan malam, kami berkumpul untuk mendengar cerita dari pelaku sejarah di sekitar Manggisan. Mereka bercerita bagaimana perjuangan pasukan yang dipimpin Letkol Moch. Sroedji. Aku lupa nama-nama beliau dan detail ceritanya, tapi hal yang berkesan bahwa dalam satu pertempuran paling hanya timbul 1 korban jiwa, tidak sampai puluhan atau ratusan seperti di film-film. Dalam buku ‘Perang Bali’  I Gusti Ngurah Pindha menyatakan dalam pertempuran yang terlihat besar memang tidak selalu timbul korban jiwa yang besar, tapi efek dan tujuannyalah yang lebih penting.

Hari Pertama, Rabu, 12 Agustus 1992

Setelah sarapan dan upacara pagi, sekitar jam 08.00, perjalanan NALASUD dimulai. Peserta berjalan beriringan dipandu oleh panitia sebagai penunjuk jalan di depan dan di belakang sebagai sweeper. Tidak ada tanda route. Yang menarik, pada kaos peserta terdapat peta route yang yarus dilalui dari start sampai finish. Paling tidak route yang terdapat pada kaos menjadi panduan singkat kami. Route kami pada hari pertama adalah Manggisan, Tanggul – Badean, Bangsalsari – Sukorejo, Bangsalsari. Jika route ini diambil garis lurus, rasanya tidak ada masalah, tetapi untuk jalu Manggisan – Badean, arahnya naik ke lereng barat Argopuro melewati hutan lindung, perkampungan dan perkebunan. Dari atas lereng pegunungan kami bisa melihat bahwa besok hari kami harus sampai di Sumberrejo, Ambulu yang nun jauh di bawah sana, dan 3 hari kedepan kami harus sampai di Karang Kedawung, Mumbul sari di ujung Timur. Rasanya gentar juga saat itu, tapi berhubung hari pertama, tenaga masih kuat sehingga jarak yang terlihat jauh tidak kami hiraukan.

Berhubung hari itu hari pertama kami napak tilas, kekompakan belum terbentu. Peserta yang di depan jauh meninggalkan beberapa peserta di belakang.  Akibatnya beberapa peserta kehilangan arah dan harus bertanya-tanya pada penduduk yang dilewati. Sekitar jam 10 pagi, aku sempat bertanya pada seorang penduduk setempat. Beliau menjawab bahwa desa Badean sekitar 1 km dari posisi kami.. wal hasil jam 15.00 kami baru sampai Badeyan. Jawabannya tidak akurat sama sekali.. 🙂

Sampai Badeyan, kami makan siang.. setelah sholat beristirahat sejenak untuk melanjutkan perjalanan sampai titik bermalam hari itu di Sukorejo, Bangsalsari. Artinya kami harus turun sampai ke jalan raya. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami dibriefing bahwa dalam perjalanan kami adalah team sehingga rombongan tidak boleh terpisah, yang kuat membantu peserta putri yang mungkin tidak kuat. Ini untuk mengurangi resiko ada peserta yang kesasar seperti pada etape sebelumnya.  Etape kedua, hari pertama ini relative lebih mudah karena kami tinggal menuruni perbukitan melalui jalan tanah melewati tegalan dan kebun kopi. Tidak melewati hutan seperti sebelumnya. Menjelang maghrib, kami sampai di Masjid kebun Banjarsari, Bangsal. Kami beristirahat sejenak sambil sholat Maghrib. Setelahnya kami  melanjutkan perjalanan sampai ke Balai Desa Sukorejo, Bangsalsari sebagai titik finish perjalanan hari pertama.  Setelah istirahat dan makan malam, kami beramah tamah dengan pamong desa dan dihibur dengan acara kesenian sebelum akhirnya tidur setelah ada briefing malam.

posterNalasud

Nalasud XV, 2014

Continue reading

Sejarah Pangkalan TNI AL di Tegal

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, pada tanggal  25 Agustus 1945 dibentuklah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selanjutnya pada tanggal 10 September 1945  dibetuklah BKR Laut yang nantinya akan berubah menjadi TKR Laut pada tanggal 10 Oktober 1945.

Pangkalan TNI AL Tegal

Pangkalan TNI AL Tegal, diambil April 2014

Di Tegal sejak tanggal 10 September 1945 sebenarnya telah terbentuk BKR Laut, tapi dengan kedatangan Letkol Darwis Jamin dari Demak, BKR Laut di Tegal dikonsolidasikan dengan baik. Sebagai anggota awal dari BKR Laut Tegal adalah personel dari Sekolah Pelayaran Tinggi Tegal (SPT Tegal). Belakangan bergabung pula personel dari SPT Jakarta diantaranya Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI).

Personel lain yang bergabung adalah ex sensei (guru), fuku sensei (pembantu guru) dan seito (murid)  dari Kooto Sen-in Yoseiso Semarang (SPT Semarang). Berikutnya menggabungkan diri rombongan mantan Marine Belanda (KM) dan mantan KNIL yang berjiwa patriot Proklamasi ’45. Diantaranya Bpk. Wakijo, Bpk. tukiran, dan Bpk. Muhamad. Selanjutnya rombongan mantan pemberontak Hutapea dengan kekuatan 1 Batalyon ringan menggabungkan diri dengan Pangkalan Armada IV Tegal. Disamping itu masih ditambah lagi pemuda pecinta Bahari dipimpin oleh Bpk. Saminu dan rombongan mantan Pelayaran Bangsa Indonesia dari Australia dipimpin oleh Bpk. Jerison.

Tanggal 15 November 1945, keseluruhan komponen yang diperlukan untuk pembentukan TKR Laut teah sempurna diantaranya karena bergabungnya ex Marinier Belanda (KM) di dalamnya. Dan untuk itu, dilakukan upacara di Cepiring dan diangkat Darwis Jamin dengan pangkat Letnan Kolonel kemudian Kolonel, sebagai Wakil Komandan Pangkalan adalah Bpk. Marzis dan Bpk. A.F. Langkay sebagai Kepala Staf. Tanggal 15 November saat ini diperingati sebagai Hari Marinir.

Tahun 1946, di Tegal dirikan Sekolah Angkatan Laut dengan pimpinannya Laksamana-III Adam. Salah satu instrukturnya adalah Letnan II SR.S Subyakto (Laksamana purn, KSAL 1974-1977). Lulusan sekolah ini berpangkat Bintara. Sekolah ini kemudian ditarik ke Yogya saat terjadi Class-I

Tahun 1947, Maskar Besar Umum Angkatan Laut di Yogyakarta mengadakan sekolah opsir di Kali Bakung, Tegal. Pelatihan yang dibuka pada Mei 1947 diikuti oleh 39 Perwira Dek dan 18 Perwira Mesin dipimpin oleh Mayor R.E Martadinata. Selain pelajaran tentang dek dan mesin, bahasa Inggris dan etiket menjadi mata pelajarannya. Untuk Etiket, dilakukan praktek table manner tiap Sabtu siang di sebuah hotel di Tegal, sayang tidak diketahui di hotel mana kegiatan ini dilakukan.

Saat terjadi Class-I, Sekolah Opsir bubar, siswanya ada yang ke Yogya dan ada yang bertahan di Kali Bakung bersama anggota mariner.

Beberapa bangunan yang terkait dengan Pangkalan TNI AL Tegal antara lain :

1.  Dansional Tegal, terletak di Jalan Proklamasi, dibangun tahun 1914. Dari foto lama yang ada, dulunya adalah Nederlandsch-Indisch Handelsbank

Pangkalan TNI AL Tegal, dahulu kala, dari posting Mas Krisna Wariyan (https://www.facebook.com/krisna.wariyan)

Pangkalan TNI AL Tegal, dahulu kala, dari posting Mas Krisna Wariyan (https://www.facebook.com/krisna.wariyan)

  1. Kantor Pos Besar Tegal, letaknya di seberang Dansional Tegal, dibangun tahun 1930. Konon pernah dijadikan markas TNI AL (sebelumnya TKR Laut) sebelum akhirnya diserahkan ke Jawatan PTT tahun 1954
Kantor Pos Tegal, dibangun tahun 1930

Kantor Pos Tegal, dibangun tahun 1930, dambil April 2014

3.Gedung  DPRD Tegal, dibangun tahun 1750-an oleh Mathijs Willem de Man (1720-1763) semula menjadi rumah pribadi Residen Tegal masa itu. Sempat menjadi markas TKR Laut.

DPRD

Kantor DPRD Tegal, dulu rumah Residen Tegal.. dari web Pangkalan TNI AL Tegal dikatakan pernah dijadikan markasnya pada perang kemerdekaan

 Picture 003

  1. Monumen Yos Sudarso, terletak di depan Gedung DPRD, diresmikan tanggal 15 Januari 1969
Monumen Yos Sudarso., diresmikan 15 Januari 1969

Monumen Yos Sudarso., diresmikan 15 Januari 1969

Referensi :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_TNI-AL
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Nasional_Indonesia_Angkatan_Laut
  3. http://astekad.blogspot.com/2011/11/bangunan-bersejarah-kota-tegal.html
  4. Markas Besar LVRI, Bunga Rampai Perjuangan dan Pengobanan Jilid II, PT Penca, 1983

Kabeh Ono Titi Wancine.. Sebuah Catatan dari Diskusi Novel Sang Patrot, 31 Mei 2014 di Bandung

Tanggal 31 Mei 2014 kemarin, akhirnya janjiku pada Mbak Irma Devita tertunaikan. Hadir sebagai perwakilan warga Jember di perantauan dalam Diskusi Novel Sang Patriot karya Mbak Irma. Dari semua ulasan, perbincangan, tanya jawab dan lainnya, ada sebuah kalimat yang sungguh menyentuh. Kabeh ono tit wancine… semua ada masanya….

BarengBlogger

Foto bareng teman-teman Blogger.. sebelum acara dimulai

Novel Sang Patriot adalah penuntasan janji seorang cucu kepada Sang Nenek tercinta, setelah lebih 30 tahun lalu, saat Irma Devita kecil berjanji pada Eyang Putrinya untuk menuliskan sejarah perjuangan Eyang Kakungnya, Letkol M Sroedji  yang tidak sempat dilihatnya bahkan tak sempat dilihat oleh Ibunya.

BarengMbakIrma

Bareng Sang Penulis.. he..he.. janjiku lunas ya Mbak.. semoga ketemu lagi di acara yang lain

Banyak yang bertanya, kenapa baru sekarang novel itu dituliskan.. ya kenapa baru sekarang saat Sang Eyang Putri telah berpulang.. Kenapa baru sekarang saat Sang Pakde yang lebih paham sejarah Sang Kakek dibanding Ibunya sudah meninggal. Akhirnya kembali pada  ungkapan kabeh ono titi wancine.. ada waktu janji itu dituntaskan.

Sebuah novel, Sang Patriot menjadi bukti ditunaikan janji itu… buku bukti kecintaan seorang cucu pada Eyang Putrinya. Buku yang menceritakan seorang Patriot sebagai seorang pejuang, komandan, suami bagi istrinya, bapak bagi anak-anaknya dan sahabat bagi rekan-rekannya. Ya.. Novel Sang Patriot mewakili semua itu, dan Sang Patriot itu sebenarnya bisa siapa saja, tidak hanya tentara, tapi juga seluruh rakyat yang turut mendukung perjuangan masa itu.. baik yang diberikan tanda jasa atau bahkan yang mungkin tidak sempat dikenal namanya, yang tidak diketahui di mana pusaranya.

Serius menjelaskan Sang Patriot

Serius menjelaskan Sang Patriot

Aku juga menyesal.. andai aku menyadari saat dahulu kala.. karena Abdul Syukur, ajudan Letkol M Sroedji telah kukenal saat aku anak-anak, mungkin akan banyak sejarah yang bisa ku gali dari beliau. Andai aku tahu bahwa Mayor Safiudin ternyata kakek sahabatku, tentu akan lebih banyak potongan puzzle yang bisa kususun.

Tapi semua ada waktunya.. ono titi wancine.. mungkin baru saat ini saat yang dijanjikan itu.. tapi bersyukurlah masih ada serpihan sejarah yang bisa kita kumpulkan untuk melestarikan semangat pada pejuang yang membela kemerdekaan Negara ini. Sekarang saatnya, kita meneruskan semangat itu dan menurunkannya pada anak-anak kita dan kelak pada cucu-cucu kita.. Kabeh ono titi wancine…

BarengSemua

Foto rame-rame setelah acara bubar.. HVB emang manteb

KAMP INTERNIRAN DI DJEMBER

Gara-gara mencari  informasi tentang rumah sewa Mlaten, Semarang yang katanya dibangun tahun 1920-an atas prakarsa Thomas Karsten, akhirnya  tibalah pada sebuah gambar tentang ex Penjara Mlaten yang dulu pernah dijadikan kamp interniran pada jaman Jepang. Interniran  artinya pengasingan bagi tawanan perang atau musuh politik. Pada jaman pendudukan Jepang, warga Belanda, warga Eropa atau Indo-Eropa di interniran oleh penguasa Jepang di kamp-kamp khusus dengan maksud agar mudah diawasi.  Dari buku Ellien Utrech, Melintas Dua Jaman,  diceritakan sekilas bahwa pada jaman Jepang, dia dimasukkan di kamp di P.G Pandji, Situbondo, dipindahkan ke Bondowoso, Djember, Surabaya dan akhirnya di Jalan Halmahera, Semarang. Dari penelurusanku, akhir ketemu sebuah sumber yang membahas tentang kamp interniran di Djember. Hanya saja, datanya dimulai tahun 1945 sampai dipulangkannya sebagian warga Eropa di Indonesia ke Negara asalnya.

Interniran menunggu transportasi untuk evakuasi.. Foto koleksi National Collection/Australian War Memorial

Continue reading