Gedung ex Mega Eltra, Semarang

Sebuah gedung tua berukuran besar tampak merana menunggu ajalnya di Jalan Bandarharjo Selatan. Di mukanya dipasang pagar seng dengan peringatan agar olarng tidak melintas terlalu dekat dengannya. Kekawaturan bangunanya akan rubuh menjadi alasan mengapa orang dilarang untuk mendekatinya. Bagian muka dari bangunan in sudah hancur, tampak ruang-ruang yang seharusnya tertutup tembok. Tetumbuhan liar menutupi  sebagian wajah gedung ini. Tidak nampak lagi keindahan yang pernah dipertontonkannya saat masa-masa jayanya.

megaeltra20131

Gedung ex Mega Eltra, merana.. Oktober 2013

Gedung itu dulunya bernama Gedung Mega Eltra, dibangun sekitar tahun 1897. Penghuni gedung ini dulunya NV. Lindeteves yang menyediakan kelistrikan di wilayah pelabuhan Semarang. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini dikenal dengan nama Semarang Kikei Sesaku Syo.

megaeltra20132

Hampir rubuh.. Oktober 2013

Bangunan bergaya klasik ini dilengkapi dengan 2 menara di kedua sisinya. Di sisi kiri menara berbentuk segi empat seperti benteng-benteng di Eropa. Menara kedua terletak di sebelah kanan dengan bentuk runcing seperti bentuk  menara pada bangunan Bank Mandiri di Jl Mpu Tantular, kawasan Kota Lama, Semarang. Bentuk menara segi empatnya mirip dengan menara ex kantor pusat SCS di Tegal.

megaeltra20133

Menara di sebelah kiri.. ciri khas bangunan awal tahun 1900-an Oktober 2013

Konon sejak tahun 1998 gedung ini dimiliki oleh Perusahaan Sucofindo, Jakarta. Tidak ditemukan catatan kapan gedung ini mulai ditinggalkan, tetapi kondisi lingkungan yang sering terjadi rob rasanya membuat investor tidak mau menempatkan perusahaannya di  gedung ini.

Mega Eltra sendiri adalah perusahaan yang bermula dari perusahaan Belanda yang kegiatan usaha di bidang listrik, mesin dan peralatan tehnik yang telah eksis sejak tahun 1930, dikenal dengan nama Electro Import NV . Perusahaan ini merupakan anak perusahaan Jacobson Vanden Berg & Co, sebuah perusahaan Belanda yang pada zamannya dikenal dalam kelompok perusahaan “The Big Five”.

Dengan Adanya Nasionalisasi terhadap perusahaan Belanda yang berlangsung pada tahun 1958 s/d 1960, telah mengubah NV. Electro Import menjadi PT. Yuda Electro, yang kemudian dengan PP No. 72 Tahun 1961 perusahaan ini diintergrasikan ke dalam PN Tulus Bhakti sebagai Divisi Electro Tehnik. Ditahun 1965 Divisi ini berdiri sendiri menjadi PN Mega Electro ( singkatan dari : Mesin Gaya dan Electro)

Negara RI melakukan pelimpahan/tambahan modal dari eks, Likuidasi PT. Pembangunan Niaga. Dengan tambahan berupa asset, kegiatan PT Mega Eltra diperluas lagi ke bidang trading sehingga kegiatan usahanya menjadi Mesin, Gaya, Electro dan Trading disingkat PT Mega Eltra ( Persero).

Dengan diterbitkannya PP No. 34/1998, tanggal 28 Februari 1998 tentang pengalihan Modal saham Negara di PT Mega Eltra kepada PT Pupuk Indonesia (Persero) maka sejak itu PT Mega Eltra masuk dalam kelompok Holding PT Pupuk Indonesia. Kemudian untuk memenuhi UU perseroan maka PT Rekayasa Industri ikut menempatkan sahamnya di PT Mega Eltra.

Tidak diketahui sejak kapan PT Mega Eltra menempati gedung ini dan kapan mulai meninggalkannya. Berikut ini beberapa foto kondisi dahulu dan saat ini (diambil Oktober 2013)

MEgaEltra

Kantoor van handelsonderneming Lindeteves-Stokvis te Semarang, tahun 1925, dari buku Meretas Masa

MEgaEltra2006

Ex Gedung Mega Eltra, tahun 2006, masih utuh sekalipun sudah mulai tidak terawat, dari buku Meretas Masa

MegaEltra1910

Kantoor van handelsonderneming Lindeteves-Stokvis te Semarang, tahun 1910, sumber KITLV

MegaEltra1914_tentoonsteling

Paviliun Perusahaan handelsonderneming Lindeteves-Stokvis te Semarang, pada tentoonstelling tahun 1914

Sumber :

  1. Eddy Muspriyanto, dkk, Meretas Masa : Semarang Tempo Doeloe, Terang Publishing, Semarang, 2006
  2. http://www.megaeltra.com/sejarah.html
  3. KITLV.NL

De Javasche Bank, Cikal Bakal Bank Indonesia

Gedung BI Solo, diambil tanggal  7 Desember 2014

Gedung BI Solo, diambil tanggal 7 Desember 2014

Bank Indonesia adalah bank sentral di Indonesia yang dahulu merupakan bank milik pemerintah Belanda, De Javasche Bank. De Javasche Bank di nasionalisasi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Undang-Undang no 24 tahun 1951. Setelah menjadi Bank Sentral, keberadaannya diatur dengan UU no 11 tahun 1953 tentang Undang-Undang Pokok Bank Indonesia.

De Javasceh Bank sendiri, awalnya dirikan atas perintah Raja Belanda Willem I melalui surat perintah tanggal 29 Desember 1826, namun baru tanggal 24 Januari 1828 Bank ini berdiri.  Kantor pertama Javasche Bank didiirkan di Semarang tanggal 1 maret 1829  disusul oleh Surabaya tanggal 14 sSeptember 1829. Kantor De Javasche bank di Bandung baru dibuka tanggal 30 Juni 1909.

Pada tahun 1912-an,  kantor-kantor De javasche Bank dibangun atau direnovasi. Untuk kegiatan tersebut ditunjuklah Biro Arsitek Fermont, Hulsswit dan Edward Cuypers untuk merancangnya. Karena dirancang oleh biro arsitek yang sama, maka bentuk dan gayanya hampir sama. Sebagai contoh, Javasche Bank  Batavia, Makasar, Medan dibangun tahun 1912 sedangkan kantor di Bandung, Solo dan Jogja dibangun tahun 1915.

Beberapa bangunan BI ex De Javasche Bank masih terawat hingga sekarang namun ada pula yang sudah tidak dipakai lagi karena BI menempati kantor yang baru seperti di Semarang. Berikut ini beberapa bangunan ex Javasche Bank koleksi KITLV dan Tropen Museum

BandaAceh1937_perniakan Juliana dan PangeranBernard

Javasche Bank Kutaraja, Aceh tahun 1937, dihias dalam rangka pernikahan Ratu Juliana dan Pangeran Bernard

Bandung1920

Javasche Bank Bandung, tahun 1920, sekarang masih di pakai BI di Jalan Braga

BankIndonesia_lokasi tidak diketahui

Bank Indonesia dengan bangunan kunonya, lokasi tidak diketahui

BIJakarta1910

Javasche Bank, Batavia 1912

Bnjarmasin1920

Javasche Bank, Banjarmasin 1920

PematangSiantar1934

Javasche Bank, Pematang Siantar tahun 1934

JakartaKota1950

Javasche Bank, Jakarta Kota, tahun 1950

Jogja1915

Javasche Bank, Jogja tahun 1915

Medan1912

Javasche Bank, Medan, 1912

Makassar1912

Javasche Bank, Makassar 1912, sebelah kanan

Manado1920

Javasche Bank, Manado 1920

Suarabaya1895-1925

Javasche Bank, Surabaya, tahun 1895-1925, sebelum di renovasi

SUrabaya1925

Javasche Bank, Surabaya 1925, setelah direnovasi

Sumber :

1. KITLV.nl

2. http://commons.wikimedia.org

3. S. Katam, Gedung Bank Indonesia Bandung: Dari masa ke masa, Kiblat Bandung, 2013

 

 

Toko Nam Bie, Semarang

Sebagai penggemar sejarah khususnya bangunan-bangunan tua, hal yang paling menyenangkan adalah jalan-jalan ke lokasi sambil membaca informasi tentang bangunan bersejarah tersebut. Sambil menikmati keindahan bangunan tua tersebut, imajinasi juga bekerja membayangkan bagaimana rupa bangunan tersebut pada masa jayanya.   Meluangkan waktu untuk sekedar mengunjungi bangunan-bangunan tua secara langsung terus terang menjadi sesuatu yang mahal karena sulitnya mencari waktu untuk itu (sok sibuk ceritanya). Maka kadang harus diakali agar keinginan untuk jalan-jalan terpenuhi.

Saat tidak bisa kemana-mana, tapi pengen kemana-mana, apalagi yang dilakukan kalo tidak jalan-jalan di dunia maya. Dan yang yang dituju tentu gak jauh dari hobby, cari-cari foto bangunan kuno dan cari tahu tentang sejarah bangunan tersebut. Beberapa website yang sering dikunjungi seperti KITLV, Troopen museum, dan yang agak baru Military Museum Netherland, selain web-web lain yang berserakan di dunia maya.

Salah satu hal yang sangat menyenangkan saat melakukan kegiatan ini jika kita bisa mengenali suatu foto bangunan lama dan tahu kondisinya saat ini. Apalagi kalau foto tersebut tidak memberikan informasi yang cukup banyak. Sebagai contoh foto di bawah ini.  Foto ini didapat dari Museum Militer Belanda. Pada keterangan gambar dituliskan bahwa ini adalah parade militer dari tentara Belanda pada tanggal 18-2-1947 dalam rangka kelahiran Putri Marijke. Lokasi dikatakan di Semarang, tapi tidak disebutkan dengan spesifik.

Semarang_tok_nambie_18_2_47

Parade Militer tahun 1947 dari http://nimh-beeldbank.defensie.nl

Continue reading

Herman Thomas Karsten, Arsitek Humanis ((22 April 1884, Amsterdam–1945, Cimahi))

Terlahir dari keluarga mapan dan terpelajar membuat Thomas Karsten mejadi orang dengan pandangan luas dan terbuka. Ayahnya seorang profesor filsafat. Awalnya Karsten kuliah di jurusan teknik mesin di Politeknik Delft yang sekarang menjadi TU Delft kemudian pindah jurusan ke jurusan struktur. Karsten semasa kuliah tergabung dalam Socialische Technische Vereeniging atau Persatuan Insinyur Sosialis dimana saat berada di Hindia Belanda dia bergabung diorganisasi kembarannya.

Karsten datang ke Indonesia tahun 1914 atas ajakan Henry Maclaine Pont, kakak kelasnya di TU Delft, untuk membantunya di biro arsitek milik Maclaine Pont . Kesediaan Karsten ke Hindia Belanda salah satunya uuntuk menghidari perang dunia pertama, dimana Hindai Belanda dianggap cukup netral dan cukup jauh dari daerah konflik.  Konon Karsten tidak pernak dilatih sebagai ahli tata kota, tapi konsepnya, kepedulian pada lingkungan dan latar belakang sebagai arsitek membawa dia sebagai ahli tata kota yang ulung.

Keluarga Thomas Karasten dari http://sejarahsemarang.wordpress.com/

Keluarga Thomas Karasten
dari http://sejarahsemarang.wordpress.com/

Continue reading

Raden Saleh, Beberapa cerita kecil dibalik nama besarnya

Raden Saleh atau nama lengkapnya Raden Saleh Syarif Bustaman adalah seorang pribumi yang telah menggetarkan dunia di seni rupa. Beliau disebut-sebut sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia yang karyanya banyak tersebar ke seluruh dunia. Karya beliau jauh meninggalkan jamannya, dimasa beliau hidup diantara tahun 1807-1880. Nama beliau diabadikan untuk banyak objek di Indonesia, ada Taman Budaya Raden Saleh di Semarang, Jalan Raden Saleh di Jakarta dan lain-lain.

Kebetulan beberapa buku yang kubaca menampilkan profil beliau dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Kebanyakan cuma sekilas, jadinya gatel juga pengen menulis sedikit sisi lain dari beliau ini. Karena Cuma sisi lain, maka tulisannya tidak terlalu panjang sehingga tidak menjadi tulisan biografi.

Raden Saleh adalah putra dari pasangan Sayid Husein bin Alwi bin Awal dengan Syarifah Husein. Raden Saleh merupakan cucu dari Kanjeng Kyai Kertabasa Bustam, salah satu keluarga ningrat di Smearang. Sejak kecil beliau diasuh oleh oleh Raden Adipati Surohadimenggolo, Bupati Semarang saat itu. Sejak usia 10 tahun, Raden Saleh dititipkan pada keluarga pada keluarga Belanda di Batavia.

Continue reading