Ohannes Kurkjian, Fotografer jaman sebelum perang

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba sebuah buku  menambat hatiku untuk membelinya. Akhirnya dari dompetku melayang selembar yang bergambar Sukarno-Hatta dan beberapa lembar lainnya. Judul buku itu “Pekerja di Djawa Tempo Doeloe” dengan penulisnya Olivier Johannes Raap. Isinya adalah koleksi kartu pos jaman baheula yang bergambar pekerjaan-pekerjaan orang jawa pada masa sebelum perang.  Buku ini rasanya mirip dengan buku yang sempat kulihat di Periplus, Bandara Juanda , yang sempat kulihat saat pulang dari Surabaya, 22 April lalu. Kalau yang di Periplus rasanya tentang Batavia tempo dulu yang terekam lewat kartupos. Penulisnya gak inget tapi harganya sekitar 450-500 ribu perak… Beuh, mesti nabung dulu. Emang salah satu hiburan yang paling asyik di Bandara adalah nongkoring toko buku, utamanya Periplus. Setahuku adanya di Bandara Husein, Juanda SUrabaya, Ahmad Yani Semarang dan gak tahu dimana lagi. Kalo di Bandung, di Swalayan Setiabudi ujung Cipaganti lumayan gede tokonya.

Kembali ke bukunya Mas Oli, nama panggilan Olivier Johannes Raap kalo di Jawa.. ngelanturnya kejauhan. Salah satu yang dibahas di buku ini adalah para fotografer yang karyanya dijadikan kartupos. Dari beberapa nama, ada seorang fotografer yang bernama Ohannes Kurkdjian (1851-1903). Namanya memang tidak setenar Kassian Chepas (1844-1912) yang sempat  menjadi fotografer resmi Kraton Yogyakarta dan sempat mendapat bintang jasa dari Ratu Wilhelmina. Yang membuat menarik adalah ternyata dari hasil jalan-jalan di internet , aku sempat nemu bagaimana rupa studio foto yang didirikannya.

Nah tulisannya yang dibawah ini langsung diambil dari bukunya Mas Oli dengan sedikit edit sana sini tanpa mengurangi maknanya.

Ohannes Kurkdjian dilahirkan di Erzerum, Turki dan merupakan keturunan Armenia. Pendidikan fotografinya didapat di Moskwa dan Yerevan, selanjutnya bekerja di Wina, Paris dan Singapura. Ohannes Kurkdjian datang ke tanah Jawa tahun 1885. Dia berkeliling Jawa Timur untuk mengabadikan pemandangan . Tahun 1888, dia mendirikan studio foto yang dinamakan dengan “Foto Atelier Kurkdjian” yang letaknya di alun-alun contong Surabaya.  Studio foto ini berkembang sampai mampu mendatangkan fotografer George Lewis dari Inggris yang dijadikan manager studionya. Tahun 1898 studio fotonya dipindahkan ke Jalan Tunjungan no 60 Surabaya.

Foto-foto karya Ohannes Kurkdjian biasanya bertema topografi dan antropogi, dan karya terbesanya dalah reportase fotografi  tentang meletusnya Gunung Kelud Tahun 1901. Atas karyanya itu Ratu Wilhelmina memberikan gelar Fotohrafer resmi dari Ratu Belanda. Kurkdjian meninggal tahun 1903 dan dimakamkan di Makam Peneleh, Surabaya. Studio fotonya, “Atelier Kurdjian” dilanjutkan oleh  George Lewis sampai tahun 1916 kemudian oleh H.C van der Mal sampai akhirnya bangkrut tahun 1936.

Dari tulisan pada Buku “Pekerdja  di Djawa Tempo Doeloe” ini beberapa serpihan informasi dicoba untuk dikumpulkan. Penampakan Atelier Kurkdjian yang didirikan oleh Ohannes Kurkdjian seperti  pada foto di bawah. Tidak diketahui apakah ini yang di Alun-alun contong atau di Jalan Tunjungan. Tapi melihat kemegahan bangunannya, kemungkinan ini studionya setelah pindah ke Jl. Tunjungan. Saat ini Jl Tunjungan no 60 ditempati oleh Tunjungan Plasa 1.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_man_stapt_in_een_auto_die_staat_te_wachten_voor_de_fotostudio_van_de_N.V._Photografisch_Atelier_Kurkdjian_te_Soerabaja_TMnr_60033736

Studio Foto Ohannes Kurkdjian, Jl Tunjungan no 60

Continue reading