Kopral Hidayat, Mulan dari Jawa

Pecinta film animasi dari Disney pasti tidak asing dengan film Mulan. Film yang dirilis pada tahun 1998 ini  meceritakan seorang gadis, Fa Mulan yang menggantikan ayahnya, Fa Zhou untuk menjalani wajib militer. Untuk itu, Mulan menyamar sebagai seorang pria dan  menjalani kamp pelatihan sebagai prajurit. Di akhir cerita, Mulan mendapatkan pernghargaan tetapi menolak untuk menjadi penasehat kaisar. Mulan kembali ke keluarganya dan menjalin cinta dengan Li Shang, komandannya di pasukan.

Film yang dibintangi oleh Ming-Na Wen sebagai pengisi suara Mulan dan Eddie Murphy sebagai pengisi suara Mushu, roh penjaga Mulan ini meraup kesuksesan besar. Pada peluncurannya di minggu pertama telah mencapai penghasilan  $ 28 juta, kedua terbesar setelah The X-files. Total pendapatan yang diraupnya $304,320,254. Beberapa penghargaan juga sempat diraihnya, Annie Award dan dinominasikan dalan Golden Globe Award dan Academie Award.

Kisah Mulan ini ternyata bukan legenda belaka. Dengan akhir cerita yang berbeda, kisah seperti Mulan juga terjadi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Brigjend Soedarmin, ex Komandan Batalyon 27 (BN 27), Brigade Damarwulan menuliskan bahwa dalam pasukannya terdapat seorang prajurit bernama Kopral Hidayat. Kopral Hidayat ini sebenarnya berasal dari Pasukan Siliwangi, dan bergabung dengan Batalyon Soedarmin saat peristiwa hijrah pasukan Damarwulan ke Blitar. Kopral Hidayat ini terkenal sebagai prajurit yang cukup lincah dan pemberani.

Pada saat peristiwa Wingate Action, terjadi pertempuran antara pasukan Lettu Bg. Soemarto/BN 27 dengan pasukan Belanda di daerah Banyuwangi. Pasukan Belanda berhasil dipukul mundur tetapi salah satu prajurit Bn 27, Kopral HIdayat tertangkap oleh pasukan Belanda. Kopral Hidayat ini disiksa dan akhirnya dibunuh secara sadis oleh pasukan Belanda.  Saat tertangkap ini, akhirnya diketahui bahwa Kopral Hidayat ini sebenarnya sebenarnya seorang perempuan yang menyamar sebagai prajurit laki-laki.

 Pada saat kondisi telah aman, makan Kopral Hidayat ini dibongkar kembali dan jenasahnya dipindahkan oleh keluarganya ke Jawa Barat. Dari cerita keluarganya terungkap bahwa, Kopral Hidayat ini bergabung dengan tentara untuk menuntut balas atas kematian suaminya, seorang Letnan Angkatan Darat yang dibunuh pasukan Belanda di depan matanya. Kopral Hidayat mengaku sebagai laki-laki saat bergabung dengan BN 27/Damarwulan dan baru terungkap identitas aslinya saat gugur di tangan pasukan Belanda.

Sayang sekali tidak ada catatan tentang nama asli beliau. Bahkan dalam tulisan Brigjend Soedarmin juga tidak ada catatan lebih detail tentang Kopral Hidayat ini. Akhir kisah Kopral Hidayat ini tidak seindah kisah Mulan, tapi Kopral Hidayat ini adalah Mulan sesungguhnya di dunia nyata.. Kisahnya tidak tercatat dalam buku sejarah manapun, bahkan nama aslinya tidak diketahui oleh siapapun.. tapi sumbangsihnya buat negara ini sangat besar.. Semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua…

Sepotong Sejarah Tentang Brigade-III/Damarwulan

Bagi yang tinggal atau pernah singgah di daerah Jember dan sekitarnya, pasti tidak asing dengan kata Sroedji  atau Seruji. Nama Sroedji digunakan untuk mana sebuah universitas swasta di Jember dan beberapa nama jalan di beberapa kota. Di Jember, Jalan M Sroedji terletak di Patrang, berada di antara Jalan PB Sudirman dan Jalan Slamet Riyadi.  Di Lumajang, Jalan Sroedji terletak di Kel. Ditotrunan Kec. Lumajang. Daerah lain yang ada nama jalan Sroedji adalah di Sitibondo dan Kediri.

Letkol M Sroedji, Komandan Brigade-III/Damawulan

M Sroedji atau Letkol M Sroedji adalah komandan Brigade-III/Damarwulan yang gugur pada pertempuran di Desa Karang Kedawung, 8 Februari 1949. Bersama beliau gugur pula Letkol dr Soebandi, dokter brigade dan kepala rumah sakit tentara di Jember. Cerita lengkap tentang beliau sudah dituliskan di http://sejarah.kompasiana.com/2012/10/08/letnan-kolonel-m-sroedji-493885.html, dan tulisan di bawah ini akan sedikit membahas tentang Brigade Damarwulan yang sempat dituliskan oleh Brigjen. TNI (purn) Soedarmin, mantan komandan Batalyon 27 yang merupakan bagian dari Brigade Damarwulan yang dituliskan dalam buku Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan, terbitan Markas Besar Legiun Veteran RI tahun 1983. Isi tulisan beliau diringkas hanya mengambil yang terkait dengan Brigade-III/DM.

MakamSroedji Hijrah Resimen 40/DM

Pada tulisan Beliau (Brigjen. TNI (purn) Soedarmin)tidak dijelaskan bagaimana terbentuknya Brigade Damarwulan, tapi pada tahun 1947 saat Agresi Militer Belanda ke-1 sudah terbentuk Resimen 40/DM di Jember dengan komandan Letkol Prayudi Atmosudirjo. Bapak Soedarmin saat itu menjabat sebagai kepala staf Batalyon Macan Putih yang berkedudukan di Banyuwangi dengan Mayor Abd. Rivai sebagai komandan.

Sebagai hasil perjanjian Renville, pasukan TNI harus hijrah dari daerah yang diduduki oleh Belanda, termasuk Resimen Damarwulan yang harus hijarah dari daerah masing-masing menuju daerah Kepanjen, Malang, lalu Blitar sampai ke Kediri.

Di daerah hijrah ini terjadi Reformasi dan Rasionalisasi (RERA) pada organisasi TNI, di Jawa Timur hanya dibentuk 1 divisi dengan panglima Kolonel Sungkono sekaligus Gubernur Militer Jawa Timur (GMDT). Di dalam Divisi ini dibentuk beberapa Brigade Mobil dan Berigade Teritorial. Diantaranya Brigade IV/Mobiel untuk  Malang dengan komandan Letkol Abd Rivai, ex komadan Batalyon Macan Putih dan Brigade-III/Territorial untuk Besuki dengan komandan Letkol M Sroedji. Formasi pasukan dari Brigade-III ini sebagai berikut :

–          Brigade Mayor R. Imam Soekarto (kelak akan menjadi komandan Brigade menggantikan Letkol M Sroedji)

–          Batalyon Magenda

–          Batalyon Syafiudin

–          Batalyon Magenda

–          Depot Batalyon dengan komandan Mayor Darsan Iru

–          Letkol dr Soebandi, sebagai Dokter Brigade sekaligus Residen Militer Besuki

Menjelang Madiun Affair, terjadi perubahan dalam pimpinan Brigade, Letkol Abd. Rivai yang semula komandan Brigade-IV/Mobiel menjadi staf Brigade-III/DM sebagai supervisor komandan Batalyon Sudarmin. Selama pemberontakan PKI-Madiun, Brigade-III/DM berperan aktif dalam penumpasannya.

Wingate Action

Berdasarkan radiogram dari Panglima Divisi I/GMDT tentang perintah Wingate Action dari Panglima Komando Jawa, Kol. Nasution, maka BE-III/DM bergerak ke arah Lodaya, Blitar untuk selanjutnya menyusup ke wilayah negara boneka Belanda, dalam hal ini wilayah Besuki.  Jalur yang diambil melalui Wates, Bantur, Malang Selatan sampai Prono Jiwa. Beberapa pertempuran sempat dialami saat menjalankan aksi ini dan salah satu pertempuran paling hebat adalah pertempuran di Tempursari, Lumajang. Dengan jebolnya pertahanan Belanda di Tempursari, jalan menuju wilayah yang ditentukan mnejadi terbuka lebar. Wilayah untuk masing-masing pasukan adalah sebagai berikut :

–          BE-III/DM dan Batalyon Sjafiudin ke Jember

–          Batalyon 26/Magenda ke Bondowoso

–          Batalyon 27/Soedarmi ke Banyuwangi

–          Pasukan Kie Bintoro ke Arjasa (mestinya ini Arjasa, Situbondo bukan Arjasa Jember)

–          Pasukan H. Sjeh ke Jember

–          Letkol Abd. Rivai mengikuti Batalyon 27

–          Aparat sipil dan keluarga, dipecah menurut satuan masing-masing

Selanjutnya dari hasil rapat koordinasi pimpinan BE-III/DM, daerah Besuki dibagi dengan sistem pertahanan :

–          Wehr Kreise untuk BE-III/DM

–          Sub Wehr Kreise I untuk BN25/Sjafiudin untuk Kab. Jember

–          Sub Wehr Kreise II untuk BN26/Magenda untuk Kab. Bondowoso/Situbondo

–          Sub Wehr Kreise III untuk BN27/Soedarmin untuk Kab. Banyuwangi

Setelah pertempuran di Tempursari, BE-III/DM dengan dikawal BN25/Sjafiudin dan Pasukan Bintoro menuju ke Jember melalui Perkebunan Aengsono, Tepurejo (mungkin maksudnya Tenpurejo), Gajasan, Sumuran, Wirolegi sampai Karang Kedawung. BE-III/DM sampai di Karang Kedawung sekitar jam 22.30 dan mendapat serangan pada jam 04.30 dengan sasaran langsung komando BE-III/DM. Letkol M Sroedji langsung mengambil alih pimpinan dan akhir gugur bersama Letkol dr Soebandi.

Karena pimpinan BE-III/DM kososng, maka Letkol Abd. Rival sebagai staf Brigade mengambil alih pimpinan berdasarkan perintah radiogram Pangdiv. Karena posisi beliau bersama BN27/Soedarmin di Banyuwangi maka kendali dilakukan dari jarak jauh. Letkol Abd Rivai tertangkap oleh Belanda pada pertempuran di Watu Gepeng/Songgong, Banyuwangi dan dijebloskan di tahanan di Ambulu, Jember. Atas bujuk rayu Belanda, Letkol Abd. Rivai diangkat sebagai komandan Barisan Pengawal Negara Jawa Timur dengan pangkat Komisaris Besar Polisi.

Karena kembali kosong, pimpinan BE-III/DM akhirnya beralih ke Mayor Imam Soekarto, dan markas dipindahkan ke Sukojember, perbatasan Jember-Bondowoso. Dari tulisan lain di buku tersebut, disebutkan selanjutnya tugas BE-DM banyak beralih ke pembinaan teritorial untuk menghadapi proganda Belanda lewat Negara Jawa Timur.

Beberapa catatan dari tulisan Brigjen (purn) Soedarmin

Beberapa pertempuran yang dihadapi BE-III/DM antara lain di Kademangan (Blitar), Tempursari (Lumajang), Candipuro (Lumajang), Jarit (Lumajang), Karang Ploso (Malang),  Sinduro (Lumajang), Pandemangan (mungkin maksudnya Kademangan Blitar). DI Karang Ploso, pasukan BE-III/DM sempat dijamu oleh lurah setempat dan kemudian diserang tentara Belanda karena ternyata lurah tersebut mata-mata Belanda. Pasukan bisa meloloskan diri setelah sebelumnya menembak mati lurah mata-mata tersebut. Brigjen Soedarmin juga mencatat pertempuran di Bandealit dimana pasukan Soewardi/BN27 berhadapan dengan pasukan Belanda. Pasukan Belanda dapat dipatahkan mentalnya dan dikalahkan oleh pasukan TNI sehingga banyak senjata yang bisa dirampas. Hal ini berkat dukungan Barisan Ompong (BO), organisasi kelaskaran yang terdiri dari para bromocorah, PSK dan kelompok kejawen. P. Soemarwi, salah satu pentolan B.O berjasa sangat besar dalam pertempuran ini.

Secara garis besar, tulisan beliau ini tidak spesifik menceritakan tentang BE-III/DM karena secara posisi beliau terpisah dengan induk pasukan BE-III/DM yang dibawahi oleh Letkol M Sroedji. Rute perjalanan Letkol M Sroedji kemungkinan tidak berurut sebab diceritakan melalui Wirolegi, sementara route Grilya yang dinapaktilasi lewat NALASUD berdasarkan saksi mata yang lain tidak melewati Wirolegi tetapi melambung ke arah Selatan melalui Wuluhan, Sumberrejo Ambulu, Tempurejo sampai ke Karang Kedawung. Bisa jadi yang melewati Wirolegi bukan induk pasukan, tapi pasukan-pasukan kecil.

Semoga tulisan yang dirangkum dari tulisan Brigjen TNI (purn) Soedarmin ini semakin membuka tabir sejarah perjuangan Letkol. M Sroedji dan Brigade Damarwulannya.