Sejarah Stasiun Bandung (Versi Gak Serius)

Stasiun KA Bandung didirikan tanggal 17 Mei 1884 bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Jakarta-Bandung via Bogor-Sukabumi-Cianjur.  Jalur ini digunakan untuk mengangkut hasil bumi berupa hasil perkebunan. Selanjutnya jalur ini berlanjut sampai ke Cilacap, JogJa  bahkan ke Surabaya.  Makanya kalo kita perhatikan, lirik dalam lagu anak-anak, bunyinya  sebagai berikut :

“Naik kereta api tut..tut..tut..

Siapa hendak turut?

Ke Bandung, Surabaya

Bolehlah naik dengan percuma

Ayo kawanku cepat naik

Keretaku tak berhenti lama”

Nah lo.. masak dari Jakarta ke Surabaya naik kereta api harus lewat Bandung, kok gak lewat Semarang? Nah itu karena pada saat itu lintasan KA Cirebon-Semarang belum terhubung meskipun  Semarang ke Surabaya sebenarnya  sudah terbangun jalur KA. Jalur Semarang-  Cirebon dilayani oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) sekitar tahun 1897. Hanya jalur Batavia-Cheribon mungkin belum ada sehingga untuk ke Surabaya harus lewat Bandung.. kebayang jauh dan lama.

Nah kok bisa cuma Cirebon- Semarang saja gak sampai Jakarta, ya sebagia informasi kereta api jaman dulu tidak seperti sekarang yang cuma PT KAI sebagai operatornya, tetapi swasta juga ikut berperan. Selain Staatsspoorwegen (SS) alias BUMN Kereta Api-nya Hindia Belanda juga ada perusahaan swasta, misalnya di Semarang saja ada perusahan swasta yaitu :  Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS), Samarang-Joana Stoomstram Maatschappij (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Di daerah lain juga ada beberapa perusahaan swasta lain. Sedangkan jalur Batavia-Bandung dikelola oleh   Staatsspoorwegen (SS) dengan semboyannya : “Staats Spoor Steeds Sneller” (“4S”). Artinya : “Kereta Api Negara Selalu Lebih Cepat !” yang pasti sekarang semboyan itu tidak berlaku lagi buat PT KAI, yang berlaku adalah sindiran Iwan Fals: “Kereta terlambat, 2 jam cerita lama”.

Masalah lain terkait dengan lagu tadi yaitu kebiasaan naik kereta api  gratisan alias ngak bayar ternyata sudah sejak dahulu kala sudah diajarkan sejak kanak-kanak. Siapa bilang naik kereta api ke Bandung dan Surabaya boleh dengan percuma, boong itu, bahkan saat arus mudik, tiket KA naik sampai 200%, mananya yang gratis?

Eh balik lagi ke cerita stasiun Bandung. Jalur lintas Bandung-Surabaya dibuka 10 tahun kemudian yaitu tahun 1894 yang membuat stasiun Bandung jadi tambah ramai yang katanya jumlah penumpang yang naik-turun di stasiun Bandung yang semula 32.000 orang dalam 3 tahun naik menjadi 1.307.000 orang  dengan bagasi semula 9.250 ton meningkat menjadi 244.700 ton dalam selang waktu yang sama.

Efeknya yaitu bangunan  yang semula tidak terlalu besar akhirnya dirombak menjadi lebih besar. Pada tahun 1909, arsitek F J A Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Desain stasiun lama (stasiun selatan) yang masih dapat kita saksikan sekarang adalah karya E.H. de Roo yang merupakan desain keempat tahun 1928. Dulunya stasiun Bandung dihiasi oleh sebuah tugu dimana saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008 (oleh Staats Spoorwegen dinomori 508T diubah menjadi TC 1008 oleh DKA/Djawatan Kereta Api) . Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung.

Perkembangan jaringan jalan KA dari/ke Stasiun Bandung :

1884       :  stasiun Bandung berdiri   seiring dibukanya jalur Batavia-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung

1894       : Dibuka lintasan Bandung- Surabaya

1906       : Dibuka lintasan baru Batavia-bandung via Cikampek-Purwakarta

1909       : Perluasan stasiun KA, dengan arsitek F J A Cousin

1918       : dibuka lintasan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali

1919       : Dibangun lintasan Bandung-Citeureup-Majalaya

1921       : Dibangun lintasan Citeureup-Banjaran-Pangalengan

1923       : Dibangun lintasan Bandung-Ciwidey

Ohya, angka-angka tahun di atas bisa saja kurang akurat karen dari beberapa referensi di bawah kadang agak berbeda. Tapi sebagai pengetahun gak apalah..

Saat ini dari jalur-jalur yang ada, yang masih aktif hanya jalur Batavia-Bogor (eh Jakarta-Bogor ), Jakarta-Bandung via Cikampek, Bandung-Cianjur (katanya sekarang dilayani oleh KA Argo Peyeum 😀 ), dan Bandung-Surabaya. Sedangkan jalur lain semua sudah mati seperti jalur Bandung-Ciwidey yang ditutup tahun 1975.

Sumber :

  1. Pikiran Rakyat, Minggu, 18 September 2011, halaman 2
  2. http://www.bandungheritage.org/index.php?option=com_content&view=article&id=66%3Asi-gombar&catid=14%3Aheritage&Itemid=2
  3. http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1114131&page=6
  4. http://rel-keretaapi.blogspot.com/2011/03/kilas-sejarah-stasiun-stasiun-ka-di.html
  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall
  6. http://twitter.com/#!/matriphe/status/10820002735
  7. http://jurnalbandung.blogspot.com/2011/01/sejarah-sepanjang-rel-kereta-bandung.html
  8. http://el-cukil.blogspot.com/2011/04/sejarah-hadirnya-kereta-api-di-kota.html

Leave a Reply