achmadrizal's blog

Sedikit Kuliner Maknyus Di Jember.. hasil mudik kemarin

Beberapa tahun terakhir ini kegiatan wisata kuliner sangat marak.. Kalau ada makanan enak pasti diburu walaupun tempatnya jauh dan terpencil. Kebetulan Lebaran 2014 kemarin, saya ke Jember dan sekalipun tidak diniatkan untuk wisata kuliner, kok ndilalah banyak ngerasain makanan Jemberan yang menurutku enak.. Ada yang beli di warung ada yang masak sendiri… kalo yang dimasakin sama Ibuku, pasti paling enak, soalnya yang lain gak tahu rasanya..he..he… Berikut ini liputannya :

1. Pecel Mbok Ri. 

Pasti  gak ada yang tahu siapa Mbok Ri ini, soalnya memang nasi pecelnya gak terkenal. Mbok Ri ini tetanggaku di Patrang, jualan pecel sejak aku masih kecil sampai sekarang. M Dulu warungnya di seberang rel KA Jalan Nanas, terus pindah ke depan TK Dharma Indria I. Terakhir warungnya pindah ke sebelah rumahnya, di Jalan Nanas, belakang rumahku. Pecelnya sederhana, kulupan sayur dengan sambel pecel bikinan sendiri da diguyur dengan saur lodeh. Lauknya cuma tempe dan kerupuk. Tapi rasanya hmm luar biasa. Tiap pulang ke Jember pasti beli pecel Mbok Ri ini. Bahkan kemarin sampai Jember, H-1, Mbok Ri gak jualan Pecel, tapi kami paksa bikin pecel dengan sayur lodeh yang kami kirim bahannya buat buka puasa terakhir J. Istriku yang bukan dari Jember suka banget pecel Mbok Ri ini.Maaf ga pake foto.. lupa diambil fotonya… keenakan makannya

 2. Geseng

Geseng biasanya isinya ikan pindang, atau ikan teri basah. Dimasak kuah merah dengan tomat dan kemangi yang banyak. Rasanya gurih, asem, pedas dan segar. Cocoknya dimakan dengan nasi hangat dan sayur bayem.. beuh mantep.. apalagi ditambah tempe goreng.. Aku belum pernah nemu masakan ini di warung, dapatnya di rumah.. masakan nenekku, sekarang yang masak ya Ibuku.. Sedep banget.

geseng

Geseng iwak pindang.. masakan Ibukku, 30 Juli 2014

 3. Pecek Tempe

Di tempat lain mungkin namanya tempe penyet, tapi kalo di rumah Jember, kami lebih suka menyebunya pecek tempe Dari tempe goreng yang digoreng tidak terlalu kering kemudian digencet di cowet berisi sambel tomat. Yang bikin istimewa adalah sambel tomatnya dengan terasi yang tidak terlalu “tebal” sehingga rasanya gak berat.. pedas dan seger. Enaknya makannya di temani sayur bening seperti sayur bayem.. duh tambah seger. Yang bikin sangat istimewa, ini masakan Ibuku.. wes tak terkalahkan.. 🙂

pecek tempe

Pecek tempe, masakan Ibuku, 27 Juli 2014

 4. Rujak Manis

Kalo di Bandung, namanya rujak selalu identik dengan buah. Kalau di Jember, rujak ada 2 macam, ada rujak petis yang pakai petis dan sayur (misal rujak cingur) dan rujak buah yang biasa di sebut rujak manis. Sebenarnya mirip dengan rujak di Bandung, tapi kalai di Jember selalu ada tahu goreng yang dipotong-potong sebagai teman buah. Paling enak dimakan siang-siang..sueger.. Catetan.. kalo beli jangan yang sudah dipotongin seperti di Jalan Kalimantan, biasanya sudah gak seger.. cari yang warung atau yang keliling pakai sepeda/gerobak.. biasanya lebih seger. Kalo yang di foto ini rujak manisnya Cafe & Rest Area Gumitir, jadi agak mahal tapi bahannya terjamin bersih dan segar.

rujak_buah

Rujak Buah, Cafe dan Rest Area Gumitir, diambil 29 Juli 2014

 5. Gado-Gado Pak Endut

Beda gado-gado Jember dengan gado-gado ditempat lain adalah di bumbu kacangnya. Kalau di Bandung, bumbu gado-gadonya diuleg mendadak, kalo di Jember bumbu gado-gadony sudah mateng/jadi, tinggal diguyurkan di sayurnya. Perbedaan lainnya adalah di krupuknya, krupuknya khusus untuk gado-gado, semacam krupuk udang tapi ukurannya kecil. Gado-gado Pak Endut ini dulunya di depan SMA 1 Jember, Jalan Panjaitan. Sekarang bergesr sedikit ke sebelah Timur. Sejak SMA suka sama gado-gado disini, cuma pas SMA gak bisa sering beli gado-gado, gak punya duit buat beli. Kemarin pas Lebaran, warung buka, jadi beli buat orang rumah. Istriku yang orang Semarang suka sekali gado-gado Jember… tiap ke Jember harus beli gado-gado. Yang ini gak ada fotonya

 6. Ketan Tempe Yuk Lebih

Ketan tempe yang terkenal di Jember sebenarnya Ketan Cethol, di bawah Jembatan Penyeberangan Jompo. Kalau aku sukanya sih ketan tempe yang ada di depan Pasar Patrang. Jualannya pagi hari, Subuh sampai agak siangan. Harganya 2000-an sudah dapat nasi ketan bertabur parutan kelapa dan bubuk keledai ditambah sepotong tempe goreng hangat. Kalau makan di sana bisa sambil minum kopi anget sambil ngobrol sama orang-orang di sana. Warungnya sederhana, cuma meja dan beberapa bangku di depan toko, tapi rasanya gak bisa dilupain..tiap pulang ke Jember aku selalu beli ketan disini.

ketan tempe

Warung ketannya sederhana, rasanya luar biasa. Depan Pasar Patrang, 31 Juli 2014

 7. Gado-Gado Barokah, depan stasiun

Dulunya jongkonya di Jalan Dahlia, depan Kodim, terus pindah ke depan Stasiun KA Jember. Orang menyebutnya gado-gado depan Stasiun. Februari kemarin pas ke Jember aku kehilangan jejak gado-gado ini yang ternyata bergeser ke Selatan di depan ruko-ruko Jl Wijaya Kusuma, 400 meter dari tempat semula. Gado-gado ini bumbunya lebih lembut dari yang gado-gado Pak Endu, dan kentangnya itu lo, matengnya pas..maknyus pokoknya. Istriku bilang ini gado-gado terenak sedunia.. Anakku yang gak suka sayur jadi klepek-klepek kena gado-gado ini. Sayang kemarin hari  di Jember baru bisa beli, jadi Cuma makan sekali aja terus cabut balik ke Semarang.

gado-gado

Do-gado Jember.. ini yang Gado-gado depan stasiun.. 31 Juli 2014

 8. Es Degan sebelah Gado-Gado Barokah

Yang istimewa juga dari Gado-Gado depan stasiun adalah es degan. Yang jualan beda orang, tapi dari dulu jualannya di sebelah gado-gado ini. Harganya murah, sirupnya gak pake pewarna, degannya asli, bukan kelapa tua… Air degannya seger dan mak trecep.. opo ikut mak trecep. Belum nemu es degan seperti ini kalo di Bandung… Es degan yang juga enak itu di Jalan PB Sudirman dekat lampu merah Mastrip. Pas aku SD, sering beli es degan ini kalo pulang sekolah.

 9. Pecel Garahan a.k.a Pecel Pincuk Garahan

Awalnya orang-orang jualan pecel ke penumpang KA Jember-Banyuwangi di Stasiun Garahan. Lama-lama pecel ini jadi terkenal dan setiap akan masuk Stasiun Garahan, orang-orang sudah mempersiapkan uang untuk membelinya berhubung KA gak berhenti lama di Stasiun Garahan. Setelah pedagang gak bisa jualan ke dalam KA dan tidak boleh masuk stasiun, jualannya yang di depan stasiun dan banyak juga yang membuka warung di jalan raya Jember-Banyuwangi. Stasiun Garahan ini agak masuk ke dalam, tidak di pinggir jalan besar, tapi tetep saja banyak yang  masuk masuk ke dalam untuk sepincuk pecel. Rasanya terus terang biasa saja, kalah dengan Pecel Linggarjati di Jalan Raya Sultan Agung atau bahkan dengan pecel Buk Ri. Tapi karena tempatnya nyaman meskipun sederhana, dan orang lagi lapar (di perjalanan) ya pecel pincuk ini terasa nikmat.

Pecel Garahan

Pecel Pincuk Garahan.. belinya di depan Stasiun Garahan, 29 Juli 2014

Cuma itu kuliner Jember?.. tentu bnyak yang lain.. yang di atas itu Cuma yang sempat aku cicipi saat pulang mudik kemarin.. kalo ke Jember lagi.. tentu ada laporan berikutnya..he.he..

stasiun

Stasiun Garaha yang cetar membahana itu. 29 Juli 2014

Leave a Reply

Skip to toolbar