achmadrizal's blog

KAMP INTERNIRAN DI DJEMBER

Gara-gara mencari  informasi tentang rumah sewa Mlaten, Semarang yang katanya dibangun tahun 1920-an atas prakarsa Thomas Karsten, akhirnya  tibalah pada sebuah gambar tentang ex Penjara Mlaten yang dulu pernah dijadikan kamp interniran pada jaman Jepang. Interniran  artinya pengasingan bagi tawanan perang atau musuh politik. Pada jaman pendudukan Jepang, warga Belanda, warga Eropa atau Indo-Eropa di interniran oleh penguasa Jepang di kamp-kamp khusus dengan maksud agar mudah diawasi.  Dari buku Ellien Utrech, Melintas Dua Jaman,  diceritakan sekilas bahwa pada jaman Jepang, dia dimasukkan di kamp di P.G Pandji, Situbondo, dipindahkan ke Bondowoso, Djember, Surabaya dan akhirnya di Jalan Halmahera, Semarang. Dari penelurusanku, akhir ketemu sebuah sumber yang membahas tentang kamp interniran di Djember. Hanya saja, datanya dimulai tahun 1945 sampai dipulangkannya sebagian warga Eropa di Indonesia ke Negara asalnya.

Interniran menunggu transportasi untuk evakuasi.. Foto koleksi National Collection/Australian War Memorial

Kamp Interniran yang ada di Jember adalah :

  1. Kamp Provisional, khusus untuk tawanan perang yang terdiri dari pasukan KNIL. Tempat pasti tidak diketahui. Beroperasi dari Maret 1942-April 1942 kemudian para tawanan dikirim ke Malang dan selanjutnya ke Surabaya.
  2. Kamp Sekolah Suster, terletak di Schoolstraat, sekarang ini Jalan Kartini, Jember. Kemungkinan tempatnya saat ini di komplek Gereja Katolik Santo Yusup, Jember
  3. Kamp Bataan, sekitar 15 Km timur laut Jember, kemungkinan di dekat Kalisat
  4. Kamp Kotok, di dekat Kalisat
  5. Kamp Manggisan, masuk kecamatan Tanggul
  6. Kamp Nanasan, terletak di pusat kota, konon di bengkel mobil milik Keluarga Macare, lokasi tepat tidak diketahui

Suasana di sebuah kamp

Berikut ini penjelasan tentang masing-masing kamp interniran.

1. Kamp Nanasan : tidak ada data tentang penghuni, lokasi dan masa operasinya

 2. Kamp Sekolah Suster

Kamp ini berfungsi dari Oktober 1945 sampai Desember 1945. Kamp ini berisi wanita dan anak-anak. Di kamp ini mereka tidur di alas yang dibawa sendiri dan memasak makanan sendiri. Tercatat 1 orang meninggal dunia. Pada Desember 1945, penghuni kamp ini dipindahkan ke Kamp Bataan

3. Kamp Bataan (Desember 1945-Desember 1946)

Awalnya ditempati oleh tawanan pindahan dari Sekolah Suster di Jember, tempatnya di bangunan milik Djelboek Tobacco Company. Bangunannya sebagian berupa gedek. Pada bulan Mei 1946, para wanita dan anak-anak ini dipindahkan ke Kamp Kotok.

Dari Mei 1946 , Kamp  Bataan digunakan sebagai Kamp untuk pria dan anak laki-laki yang lebih tua. Para penghuni kebanyakan tidur di tanah karena terbatasnya temat tidur untuk menampung 302 penghuninya. Dapur umum tersedia dengan jatah terbatas untuk tiap orang. Toilet juga terbatas sehingga penghuninya menggunakan sunai di dekat kamp. Tidak ada dokter tetapi tersedia obat dan ada seorang tawanan yang perawat. Pada September 1946, terdapat kunjungan dari Palang Merah dan sebagian penghuni dievakuasi ke Semarang. Selanjutnya secara bertahap penghuninya dievakuasi sampai akhirnya ditutup Desember 1946.

Tercatat 1 orang penghuninya meninggal dank amp ini dipimin oleh J.D Belle.

 4. Kamp Kotok

Beroperasi dari April 1946 – Mei 1947. Penghuninya adalah wanita dan anak-anak pidahan dari Kamp Bataan.  Tidak ada data lebih lanjut tentang kamp ini.

 5. Kamp Manggisan

Beroperasi Desember 1945 sampai Mei 1946. Kemungkina masih berhubungan dengan kamp Bataan. Kalau dilihat dari waktu operasionalnya, kemungkinan penghuni dari Manggisan ini yang dipindahkan ke Bataan, Mei 1946. Data lebih lanjut tidak ada.

Kemungkinan bekas kamp di Bataan dan Kotok kemungkinan masih ada, mengingat masih banyak bangunan ex gudang tembakau yang mungkin peninggalan Belanda. Ada yang tertarik menelusuri?…

Kondisi penghuni kamp yang sedang sakit

Leave a Reply

Skip to toolbar